Ketika Penampilan Itu Mengelabui


Ada sebuah pepatah yang mengatakan  "Dari mata turun kehati", dan sepertinya pepatah itu jauh dari kenyataan, ketika penampilan seringkali mengelabui mata, terlebih hati yang menyangka setiap yang menarik adalah baik, setiap yang tidak enak dilihat adalah suatu keburukan.

Siang itu disebuah tempat didaerah tanggerang, suatu peristiwa yang aku alami begitu menghentakan hati nuraniku, sebuah hal yang tidak terduga namun jauh berbekas kedalam hatiku, dan menjadi pelajaran berharga bagi hidupku hingga saat ini...

Tatkala sang mentari bersinar dengan teriknya sungguh panas dan dahaga amat terasa tatkala itu, "hmm, mungkin akan turun hujan". gumamku dalam hati, saat itu memang sengaja aku duduk diberanda sebuah swalayan kecil untuk menunggu seorang teman dan sudah hampir stengah jam tidak muncul juga.

Tiba" dari kejauhan ada seorang kakek yang matanya sepertinya tidak bisa melihat, menjual kerupuk dengan dibantu oleh seorang anak kecil, mungkin cucunya, bejalan berjualan kerupuk dengan terpapah", memang hal biasa yang mungkin orang temukan, seorang tunanetra yang bejuang walau hanya berjualan kerupuk. Tapi kali ini tidak biasa, beberapa kali orang singgah untuk membeli dagangannya, mungkin karena iba atau memang butuh aku tidak tau, tapi yang pasti, ketika tiba" ada seorang yang berhenti dan menyodorkan uang kepadanya, sicucu tampak memberitahukan kepada sang kakek jika ada seorang yang ingin memberi uang, dan terlihat sikakek menolak dengan sopan, walau tidak mendengar percakapan mereka, karena dari kejauhan, tapi mungkin sikakek mengatakan kepada sidermawan tersebut "Maaf yah nak, kakek berjualan bukan meminta-minta", subhanallah, begitu kagum aku dengan kegigihan dan perjuangannnya, berusaha dengan segala keterbatasannya tanpa harus meminta".

Belum hilang rasa kagumku, tiba" terjadi lagi hal yang diluar nalarku dan hampir tidak bisa aku mengerti, dari kejauhan tampak seorang kakek berpakaian lusuh, dengan membawa kantong plastik dan botol bekas air mineral, berjalan pelan, berjalan sambil mengamati sekelilingnya, dalam hati aku berkata "oh, bapak itu sepertinya pemulung atau pengemis", dan setiap orang yang dilewatinya melihatnya dengan amat jijik, dan pandangan yang amat merendahkan, sepertinya ingin berkata "hus, pergi sana jauh" kamu kotor dan menjijikan..." mungkin itu yang mereka katakan dalam hatinya.. hmm miris memang tapi hampir semua yang dilaluinya seperti itu, tiba" sibapak itu mendekati pintu masuk swalayan itu, dan aku menebak" dalam hati, karena sikapnya yang amat mencurigakan, jika sibapak adalah pengemis ia mendekati tempat sampah itu untuk mengambil sampah plastik dan botol ditempat sampah itu yang kiranya bisa dijual, tau sibapak ingin membeli sesuatu diswalayan itu, tapi ah rasanya tidak mungkin dengan penampilannya seperti itu ingin berbelanja...

Dan semua yang ada difikiranku salah, sibapak tua tersebut ternyata bukan mendekati tempat sampah yang ada didepan swalayan tersebut, tapi dia menoleh kekanan dan kekiri melihat ada orang yang melihatnya atau tidak, dan sengaja aku pura" melihat kearah lain supaya tidak terlihat sedang memperhatikan gerak geriknya, dan ternyata ia mendekati sebuah kotak amal dedepan swalayan didekat tempat sampah tersebut, "wah mau apa dia", gumamku, dan.. tanpa kusangka" ternyata ia merogoh kantongnya yang berisi uang recehan logam dan memasukkannya satu persatu kedalam kotak amal, semua uang yang ada dikantongnya... Astaghfirullah... betapa aku berprasangka buruk kepada seorang yang hatinya begitu mulia, dengan segala kekurangannya, ketika semua orang merasa jijik kepadanya karena pakaiannya yang begitu lusuh, compang camping, ia diam" beramal dengan hartanya yang memang tidak seberapa, dan berusaha tidak dilihat orang untuk menghindari ria, subhanallah...

Begitu terasa seperti pukulan telak didadaku, untuknya recehan itu adalah sangat berharga, tapi ia keluarkan untuk beramal, membuatku berkaca pada diri sendiri...
Untuk beramal kita keluarkan nominal harta yang terkecil, 1000, 2000, 5000 atau lebih besar dengan pengumuman bahwa si fulan memberikan shodaqoh, sebesar bla bla bla.. atau tidak diumumkan tapi ingin dilihat orang...

Untuk beramal kita kikir, tapi untuk hal yang tidak berguna kita amat dermawan, sungguh yang akan kita bawa ketika kita tiada nanti bukan harta yang kita tabung dibank, bukan perhiasan yang kita kumpulkan dan kita pamerkan sehingga membuat semua org iri dengan harta kekayaan kita bukan pula investasi yang kita gadang"kan yang hanya akan jadi bahan perebutan anak" kita kelak ketika kita tiada, tapi yang kita bawa hanya harta yang kita keluarkan untuk beramal, harta yang kita bersihkan dengan zakat, shodaqoh yang kita berikan dalam diam, pemberian yang kita berikan kepada orang lain tanpa menyakiti...

Sungguh jangan pernah melihat segala sesuatu itu dari penampilan luarnya saja, yang menarik bukan berarti baik, yang tidak menarik tidak selalu buruk, bahkan mungkin lebih baik...

Tetap semangat menjalani kehidupan ini dan slalu berprasangka baik dan berfikir positif... :)

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Suara Pedati Itu Tak Terdengar Lagi

Ketika Ia pergi...