Ketika Suara Pedati Itu Tak Terdengar Lagi

Pagi itu, tepat 23 tahun yang lalu, pertamakalinya aku menghirup udara pagi ditempat yang begitu asing bagiku, sejak umurku berusia sekitar 2 tahun, orang tuaku merantau kesalah satu daerah disumatera barat untuk berdagang, hingga aku memasuki kelas 1 sekolah dasar, memang hanya beberapa tahun disana, tapi terasa seperti kampung halamanku sendiri karena masa kecilku kulewatkan begitu penuh kenangan disana.
Hari itu, hari pertama yang membingungkan bagiku, antara senang kembali ketempat awal sebelum kami pindah merantau, tapi begitu sedih karena kehilangan banyak teman yang slalu menemani hari hariku bermain disana...
Ini adalah tempat awal aku dilahirkan, sebuah tempat dibekasi yang jauh berbeda dengan tempat tinggalku dahulu didaerah sumatera barat sana, tempat yang nyaman, indah begitu asri dan sangat berkesan bagiku...
kala itu memang belum banyak kendaraan yang bisa aku lihat seperti sekarang, hampir semua orang berjalan kaki atau mengendarai sepeda untuk beraktifitasnya, hmm sungguh suasana yang menjadi jarang ditemukan saat ini, dimana hampir setiap sudut jalan ada kendaraan modern baik motor atau mobil yang memenuhi setiap jalanan, macet dimana mana dan hampir semua daerah hijau digantikan dengan perumahan padat penduduk.
Ada satu hal yang hingga saat ini aku rindukan, suara yang begitu indah begitu khas dan amat berkesan dalam memoriku hingga saat ini, Pedati Sapi, itulah hal yang aneh aku lihat kala itu, pertamakalinya aku melihat sebuah pedati, seekor sapi yang menarik gerobak berisi penuh bambu yang mungkin sipemilik pedati tersebut merupakan penjual bambu,
Klotak klotak... Klotak klotak... suara roda kayu pedati diselingi lonceng yang berguncang pada leher sapi begitu terdengar kencang, suara itu terdengar dari kejauhan, mungkin sekitar 15 atau 30 menit kemudian baru terlihat pedati itu melintas didepan rumah dengan perlahan, saat itu memang kondisi jalan didepan rumah masih tanah merah, belum ada jalanan aspal yang licin seperti saat ini, dan yang melintas hanya orang yang berjalan kaki, mengendarai sepeda atau pedati yang melintas membawa barang.
Sehari bisa 2 atau 3 kali pedati tersebut melintas didepan rumah, setiap terdengar suara pedati aku sangat bahagia mendengarnya, seperti menunggu sesuatu yang sangat aku nantikan hadirnya, setiap terdengar dari kejauhan aku berlari segera berdiri ditepi jalan, sambil melihat dari kejauhan dari mana pedati itu datang, menebak-nebak apa yang akan dibawanya, lama aku menunggu pedati itu melintas, karena jalanan yang rusak dan pedati yang membawa beban yang berat sehingga hanya berjalan perlahan lahan, ayo pedati aku tunggu kamu melintas...
Kini, pedati suara pedati itu sudah tidak akan pernah terdengar lagi, jalanan yang rusak sudah berganti dengan aspal yang halus dan licin, jalanan yang sepi berganti dengan kepadatan kendaraan modern yang memenuhi jalanan, pedati yang membawa barang telah berganti dengan sepeda motor pengangkut barang dan mobil truck yang seringkali melintas membawa barang.
Kenangan mungkin tidak akan terulang, tapi kenangan itu menjadi sebuah pengalaman berharga yang dapat kita ceritakan dan bagikan dan berharap bermanfaat bagi yang membacanya,,,
Selamat tinggal PEDATI, saat ini suara roda dan loncengmu tak lagi terdengar, tapi tak sedikitpun hilang dari ingatanku...
Comments
Post a Comment