Ketika sahabat itu pergi


Sebuah persahabatan tak ternilai oleh harta, tak lekang oleh waktu, saling menjaga dan melindungi, baik dlm susah maupun senang.

Arti seorang sahabat memang berbeda bagi setiap orang, dalam pergaulan mungkin kita memiliki banyak kawan, tapi sahabat sejati  seringkali hanya dapat dihitung dengan jari.

Kala itu usia kami masih belasan, kami para pemuda labil yang masih mencari jati diri, ego kami melampaui realita yg ada dalam kenyataan, impian kami melebihi gunung yang menjulang, rasanya saat itu tidak ada dan tidak boleh ada yang melebihi kami dalam hal apapun...

Kisah ini membuatku membuka lembaran mass lalu ketika masih duduk dibangku smp. Sebut saja namanya iken, seorang yang sebenarnya kakak kelasku dismp tapi ia menjadi sahabatku yang kmanapun kits slalu bersama.

Sebenarnya temanku adalah adiknya yang kebetulan kami sekelas, tapi entah mengapa justru kakaknya yang lebih delat denganku, usia kami memang tidak terpaut jauh, karena dia hanya 1 tingkat diatasku.

Masih terngiang diingatanku hari" yang kami lalui bersama, pada dasarnya dia adalah seorang yang baik, seorang yang amat menghargai tamu ketika berkunjung kerumahnya, sangat setia kawan ketika bergaul dan pastinya ada sisi lain darinya yg aku tau tapi orang lain tidak tahu dan dari sinilah kisah itu berawal.

Pagi itu disekolah, tepat saat acara class meeting, saat yang menjadi kegembiraan bagi kami, disana kami unjuk kebolehan dalam hal olahraga, seni dan hal lainnya.
Tapi tidak bagi aku dan sahabatku iken, justru kami melihat lihat bunga disekolah kami, ups bunga yang dimaksud bukan bunga sebenarnya, tapi gadis" tercantik disekolah kami.

Begitu bersemangatnya dia mengorek" mencari tau siapa yg saat itu aku suka dan anehnya setiap Kali ada yang aku suka ia berusaha keras membantu, dari sekedar memberi salam dariku, padahal sebenarnya tidak. Menulis surat cinta dariku, padahal dia yang menulis, sampai dia rela malam" gerimis menemaniku beberapa kali menemui sang pujaan hati, "jangan menyerah sampai dapat" katanya.

Begitu banyak pengorbanan yang dia lakukan untukku dan hanya sedikit yang aku lakukan untuknya bahkan hampir tidak ada, hmm betapa egoisnya aku. Karena memang dia tidak pernah meminta bantuan apapun :(.

Malam itu seperti biasa kami bermain bersama, kebetulan saat itu sedang main kerumahnya. Aku memang bukan hanya dekat dengannya tapi juga dengan ayah, kakak dan kedua adiknya.

Sungguh aneh hari itu ia begitu serius, tidak seperti biasanya cengengesan dan tidak bs diajak serius. Ia mengajakku ngobrol didalam rumah kosong dekat rumahnya. Saat itu untuk pertamakalinya aku lihat matanya berkaca" menahan tangis dan baru saat itu juga aku tau kisah hidupnya, memilukan membuat hatiku amat pilu dan menahan tangis jika mengenangnya :(.

Saat itu ia bercerita tentang banyak hal, bagaimana ibunya meninggalkan mereka semua ketika mereka masih kecil, betapa ia merindukan sosok ibunya. Betapa ia amat sedih dengan sikap ayahnya yg amat keras kepadanya dan betapa ia menginginkan neneknya yang ia cintai mendapat hidayah dan menjadi mualaf...

Waktu berjalan cepat setahun sudah berlalu, saat itu adalah saat yg paling aku sesali dalam hidupku. Malam itu malam ramadhan, saat waktu sahur kami bertengkar hebat, sampai aku memukuli kepalanya saking emosinya, aku memaki makinya dijalan, didepan umum...
Keesokannya memang aku datang lagi menemuinya, meminta maaf, tapi keadaan sudah berubah, sejak saat itu ia terasa asing bagiku, sikapnya seakan slalu menghindar dan tidak banyak bicara lagi seperti biasa, dan hal itu semakin membuatku merasa bersalah, hari itu aku dengar kabar kelulusannya dan aku bahagia sahabatku telah lulus...

Bagai petir menyambar disiang hair, tepat beberapa bulan kami berkelahi hebat, sepulang dari sekolah, seorang teman berkata "kok lo ga melayat sahabat lo? Td w liat bendera kuning dirumahnya"...
Antara percaya atau tidak aku bergegas kerumahnya dan benar saja, jenazahnya sedang dimandikan...
Bercucuran air mataku, hatiku sakit, remuk redam penuh penyesalan. Kubantu mengangkat kerandanya menuju tempat peristirahatan terakhirnya, aku mengangkat sisi keranda belakangnya, saat diturunkan aku terkaget "Masya Allah", ternyata posisi jenazah terbalik yang diberi payung dan yang aku angkat tepat pada kepalanya. "Ia menoleh kepadaku, mungkin menyadari sahabatnya turut mengantarnya" gumamku...

Saat yang paling memilukan melihat jenazahnya dimasukkan keliang lahat, tepat saat akan dimasukkan terlihat menyembur darah segar dari mulutnya membasahi kain kafannya pada bagian wajah, amat sedih menyaksikan saat itu...

Sahabat, pertemanan kita begitu singkat, tapi persahabatanmu menorehkan bekas yang amat dalam dihatiku, yang membuatku begitu bangga menjadi sahabatmu, sungguh kau tak tergantikan...

Semoga Allah mengampuni seluruh dosa dan kesalahanmu, menempatkanmu ditempat terbaik penuh kemuliaan...

Selamat jalan sahabat terbaiku...

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Suara Pedati Itu Tak Terdengar Lagi

Ketika Ia pergi...