Negeri Berkabut


Tatkala mentari mulai beranjak bangkit dari peraduannya, kegelapan berangsur menghilang, terlihat kabut tebal menutupi sekitar begitu sejuk udara saat itu

Suatu pagi disebuah desa didaerah majalengka, jawabarat. Tampak para petani berduyun-duyun menyusuri jalan setapak menuju sawah dan ladang mereka. Jalan yang semalam begitu sepi, kita menjadi ramai dengan hiruk pikuk masyarakat yang bersahaja.

Berjalan kaki dan menaiki sepeda ontel, serta traktor yang melaju dijalanan mengangkut karung" gabah menjadi pemandangan yang biasa saat itu, saat panen raya tiba seluruh masyarakat desa bersuka cita untuk memetik hasilpanen kerja keras mereka selama berbulan".

Sawah yang terbentang luas memancarkan aura yang amat menentramkan hati, rimbunan padi menguning membangkitkan kegembiraan yang tiada terkira.

Disanalah kediaman nenekku, seorang pekerja keras yang seorang diri membesarkan ke-7 dari 12 anak yang dilahirkannya, sungguh mengagumkan.

Dirumahnya begitu nyaman, suasana yang teduh dan menentramkan begitu terasa, senyuman sang nenek dengan tatapan mata yang berbinar" begitu bahagia didatangi oleh anak cucunya saat itu.

Diseberang rumahnya terdapat sungai yang lumayan besar, setiap pagi dan sore hari slalu dipadati para ibu yang mencuci pakaian dan anak" yang berenang dengan riangnya melawan derasnya aliran sungai.

Begitu indahnya kampung halamanku.
Tapi kini tiada lagi senyum nenek yang menyambut kedatangan kami dengan kegembiraan sejak nenek kami telah tiada, tiada lagi rumah tua yang nyaman karena kini telah berganti pemilik, suasana desa yang teduh dan nyaman kini semakin gersang, sungguh aku amat merindukan saat itu...

Negeri yang penuh keteduhan itu telah tiada...

Comments

Popular posts from this blog

Ketika Suara Pedati Itu Tak Terdengar Lagi

Ketika Ia pergi...